jump to navigation

Mengenal Tafsir Bathil Januari 26, 2008

Posted by yanti in Tafsir.
trackback

Oleh : Alfaqir Abu Aqil Al-Atsary

Satu dari sekian banyak dari sebab-sebab yang menimbulkan perpecahan dikalangan umat Islam adalah masalah penafsiran terhadap ayat-ayat al-Quran. Sudah menjadi sejarah dalam perkembangan ummat Islam bahwa munculnya kelompok khawarij adalah dikarenakan kesalahan mereka dalam memahami/menafsirkan ayat al-Quran. [Kaset “Ciri Ahlussunnah” Oleh Ust. Abdurrahman Lombok -hafidzhulloh ta’ala-]

Demikian yang terjadi dewasa ini, karena penafsiran-penafsiran terhadap beberapa ayat al-Quran yang melenceng dari petunjuk para salafussholih menyebabkan maraknya kesesatan dimana-mana, bid’ah-bid’ah pun bermunculan disana-sini. Tentu saja hal ini menyebabkan perpecahan, dan perpecahan tersebut telah membawa kelemahan umat ini dihadapan kaum kuffar. Nas’alullohassalamah.


Padahal Alloh Ta’ala menyerukan kepada kita untuk bersatu, menapaki jalan yang satu, yakni Jalan yang telah ditunjuki oleh Alloh dan Rasul-Nya Muhammad Shallallohu ‘alaihi wasallam.

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

“Dan berpeganglah kamu semua kepada tali (agama) Alloh, dan janganlah kalian berpecah belah.” (QS. Ali-Imran : 103)

Al-Imam Ibnu Katsir -rahimahullohu ta’ala- dalam menjelaskan kata وَلَا تَفَرَّقُوا tersebut beliau berkata, “Ini adalah perintah untuk bersatu dan merupakan larangan berfirqoh/berkelompok-kelompok, sungguh telah banyak hadits-hadits yang warid dari Rasululloh shallallohu ‘alaihi wasallam tentang larangan berpecah belah serta perintah untuk tetap bersatu dalam jamaah kaum muslimin.” [Lihat Tafsir Quranil Adzim, Ibnu Katsir]

Hanya dengan bersatu diatas jalan Alloh dan Rasul-Nya serta menghindari perpecahan itulah kaum muslimin akan menjadi kuat sehingga kita akan meraih kejayaan islam kembali. Dan persatuan itu hanya akan terwujud, bila kita menyadari dan menanamkan ketaatan kepada Alloh dan Rasul-Nya dalam setiap permasalah terlebih lagi dalam masalah syari’at agama.

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Dan Ta’atilah Alloh dan Rasul-Nya, serta janganlah kalian berselisih yang menyebabkan kalian menjadi goyah dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Alloh beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal : 46)

Alangkah indahnya kehidupan Rasululloh dan para sahabat ketika persatuan dan persaudaraan terwujud. Mereka mengamalkan kewajiban-kewajiban persatuan dengan ikhlas, mereka menghidari amalan-amalan bid’ah bahkan mereka sangat takut jika mereka melakukan sesuatu yang tidak pernah diperintahkan oleh Rasululloh shallallohu ‘alaihi wasallam. Dengan hal inilah mereka (para sahabat radhiallohu ‘anhum) mewujudkan persatuan sehingga Islam dapat tersebar keseluruh pelosok negeri, hanya demi mengharapkan ridho Alloh Ta’ala sehingga Alloh pun ridho kepada Mereka.

Dalam hal memahami al-Quran, mereka para sahabat -radhiallohu ‘anhum- senantiasa mengembalikan pemahaman tentang ayat-ayat al-Quran kepada Rasululloh shallallohu ‘alaihi wasallam, padahal sebagaimana kita ketahui bahwa para sahabat juga mengerti dan memahami bahasa arab. Inilah contoh teladan bagi kita, bahwa para sahabat sekalipun tidak berani menafsirkan al-Quran sehingga mereka mengembalikannya kepada Rasululloh shallallohu ‘alaihi wasallam.

Karena mereka (para sahabat) menyadari betul akan bahayanya menafsirkan al-Quran tanpa petunjuk dari orang yang kepadanya diturunkan al-Quran.

Maka, adalah sangat menakjub dan mengherankan jika ada orang yang hanya dengan mengaku bermimpi melihat ini dan itu, lalu ia mencoba menafsirkan ayat-ayat atau sebahagian ayat al-Quran tanpa petunjuk Rasululloh bahkan dengan mimpi tersebut diciptakannya ibadah baru. Padahal Rasululloh telah men-stressing bahwa amalan yang baru (bid’ah) semuanya adalah sesat. Beliau shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda,

وشر الأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة ، وكل بدعة ضلالة ، وكل ضلالة في النار.

“Dan seburuk-buruk perbuatan adalah mengada-ada (dalam urusan agama) dan semua yang mengada-ada dalam urusan agama adalah bid’ah, dan setiap yang bid’ah adalah kesesatan, dan semua kesesatan tempat kembalinya adalah neraka.” [HR. Bukhary dan Muslim]


Model Tafsir yang dilarang.

Telah menjadi kesepakatan bahwa penafsiran terhadap ayat-ayat al-Quran adalah harus dengan metode bil Ma’tsur dan sangat dilarangnya penafsiran al-Quran dengan akal semata-mata.

Penafsiran al-Quran dengan akal semata lazim disebut dengan tafsir birra’yi. Syeikh Manna Khalil Al-Qathan mendefenisikan Tafsir bir Ra’yi dengan mengatakan, “Yakni usaha memahami makna ayat-ayat al-Quran dengan pemahamannya dan hanya bersandar pada akalnya semata, dan kebanyak mereka adalah dari ahli bid’ah yang berpegang pada madzhab yang bathil”.

Adapun hukum menggunakan tafsir birra’yi adalah terlarang, haram dan tidak boleh diikuti.

Alloh Ta’ala berfirman,

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ

“Dan janganlah engkau ikuti apa yang kamu tidak memiliki pengetahuan tentangnya.” (QS. Al-Isra’ 36)

Sudah barang tentu, bahwa penafsiran dengan akal adalah merupakan persangkaan belaka, karena tidak berdasarkan kepada petunjuk Alloh dan Rasul-Nya. Dan Alloh Ta’ala telah melarang kita untuk mengikuti persangkaan itu,

اجتنبوا كثيراً من الظن إن بعض الظن إثم

“Jauhilah kebanyakan dari persangkaan, karena sesungguhnya sebagian persangkaan itu adalah dosa” [QS. Al-Hujarat : 12]

Rasululloh shallallohu ‘alaihi wasallam juga melarang kita mengikuti prasangka,

إياكم والظن فإن الظن أكذب الحديث

“Berhati-hatilah kamu terhadap persangkaan, karena persangkaan itu perkataan yang sangat dusta.” [HR. Abu Dawud dalam sunannya]

Tidak hanya itu, Rasululloh juga secara khusus melarang tafsir birra’yi tersebut, beliau shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda,

من قال في القران برأيه او بمالا يعلم فليتبوأ مقعده من النار

“Barangsiapa berpendapat/berkata (memaknai) al-Quran dengan akalnya atau dengan tanpa ilmu, maka sungguh ia sedang mempersiapkan tempatnya di neraka.” [HR. Tirmidzi, An-Nasai dan Abu Dawud, At-Tirmidzi berkata, hadits ini hasan]

atau dalam lafadz yang berbeda, Rasululloh bersabda,

من قال في القران برأيه فأصب فقد أخطأ

“Barangsiapa berkata (memaknai) alQuran dengan akalnya walaupun benar, tetapi ia tetap salah.”

Karena hal inilah kenapa para salaf (orang-orang terdahulu dari generasi awal islam) mencela dan membenci tafsir-tafsir yang berdasarkan akal semata.

Telah diriwayatkan dari Yahya bin Said dari Sa’id bin Musayyib,

“Sesungguhnya ia (Sa’id bin Musayyib) jika ditanya tentang tafsir ayat dari al-Quran, maka ia berkata,’Aku tidak akan mengatakan sesuatupun tentang (tafsir) al-Quran’.” [HR. Imam Malik dalam Al-Muwata’]

Dan telah diceritakan Abu Ubaid Al-Qosim bin Salam bahwa Abu Bakar As-Shiddiq -radhiallohu ‘anhu- ditanyai tentang makna “الأب” dalam firman Alloh Ta’ala Surat ‘Abasa : 31,

وَفَاكِهَةً وَأَبّاً maka beliau berkata, “Langit mana yang aku naungi, dan bumi mana yang aku berpijak, jika aku berpendapat tentang firman Alloh yang aku tidak ketahui?”

Demikianlah kehati-hatian yang dicontohkan oleh para salafus sholih dalam hal menafsirkan al-Quran. Maka hendaknya orang-orang yang berani menafsirkan al-Quran dengan akalnya, berfikir seribu kali tentang ancaman Alloh dan Rasul-Nya terhadap penafsiran-penafsiran al-Quran yang menyimpang dari petunjuk Alloh dan Rasululloh shallallohu ‘alaihi wasallam.

Contoh Penafsiran yang bathil.

Setelah kita mengetahui bahwa penafsiran yang dibenarkan adalah penafsiran dengan metode bilma’tsur, yakni menafsirkan ayat-ayat al-Quran dengan ayat al-Quran lainnya, atau ayat al-Quran dengan As-Sunnah, maka sangatlah mudah bagi kita untuk juga mengetahui penafsiran yang bathil/rusak.

Salah satu dari sekian banyak penafsiran-penafsiran yang bathil adalah penafsiran ayat 110 dari surat ali-imran.

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ

“kalian adalah umat terbaik yang dikeluarkan kepada manusia, yang menyuruh dengan kebaikan dan mencegah dari kemungkaran.”

Kata-kata أُخْرِجَتْ inilah yang kemudian ditafsirkan dengan “khuruj” oleh Jama’ah Tabligh, dengan alasan bahwa Maulana Ilyas Al-Kandahlawi bermimpi dan menemukan makna kata tersebut dengan “keluarnya jamaah tabligh ke merata tempat”.

Bagi orang yang telah membuka kitab-kitab tafsir yang masyhur seperti tafsir ibnu katsir, tafsir Al-Qurthubi atau tafsir At-Thobary tentu hal tersebut (penafsiran dengan makna khuruj model JT) tidak pernah ditemui, bahkan khuruj tersebut adalah hal baru dalam islam yang sebelumnya tidak disyariatkan.

Dan sudah kita maklumi bahwa hal baru dalam syariat/ibadat adalah bid’ah, dan bid’ah adalah merupakan kesesatan.

Menafsirkan al-Quran dengan mimpi, ilham atau dengan akal adalah hal yang dilarang. Dan anggapan mereka bahwa mimpi yang benar itu adalah bagian dari kenabian, juga tidak bisa dijadikan dasar/hujjah untuk membuat syariat/ibadat baru dalam islam.

Jika ada yang bertanya tentang hal serupa seperti lafadz adzan yang bersumber dari mimpi seorang sahabat Rasululloh, juga tidak bisa membenarkan penafsiran al-Quran dengan mimpi. Karena para sahabat sebelumnya mengkonfirmasikan lebih dahulu kepada Rasululloh shallallohu ‘alaihi wasallam. Baru setelah disetujui, maka lafadz adzan itupun menjadi sebuah syari’at dalam agama Islam ini.

Adapun sekarang, agama Islam ini telah sempurna, tidak perlu lagi ada tambahan, apalagi pengurangan. Alloh Ta’ala telah menekankan,

اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الإسلام ديناً

“Hari ini telah Aku sempurnakan agama kamu dan telah-Ku sempunakan ni’mat-Ku kepadamu, dan Aku ridhoi Islam sebagai agama bagimu.” [QS. Al-Maidah :3]

Maka orang-orang yang membuat syariat baru dalam Islam, padahal Islam telah Alloh sempurnakan, sungguh ia termasuk orang-orang yang mendustakan ayat ini.

Kesimpulan

Walhamdulillah, mengetahui betapa beratnya ancaman yang Alloh dan Rasul-Nya tujukan kepada orang-orang yang menafsirkan al-Quran dengan tanpa petunjuk bahkan tanpa ilmu, hal ini membuat para salafunas sholih takut melanggar larangan tersebut.

Dan hendaklah setiap muslim yang mengaku beriman kepada Alloh dan Hari Akhir, mencukupkan diri dengan apa yang telah didatangkan oleh Rasululloh shallallohu ‘alaihi wasallam, baik berupa amalan ataupun pemahaman.

Karena hanya dengan mengikuti petunjuk Rasululloh lah kita akan senantiasa diatas jalan yang benar, yakni jalan yang dapat mempersatukan ummat islam ini kembali.

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Dan sesungguhnya ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah jalan yang lurus ini, dan Janganlah kamu ikuti jalan-jalan lain, yang dapat memecah belah kamu sekalian dari jalan-Nya, yang demikian itu diperintahkan agar kamu menjadi orang yang bertaqwa.” [Al-An’am :153]

Maka jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang selamat adalah jalan yang juga telah ditempuh oleh para Nabi dan Rasul ‘Alaihimussalam yang kemudian diikuti oleh para sahabat radhiallohu ‘anhum.

Semoga Alloh menetapkan kaki kita untuk senantiasa berada diatas jalan-Nya yang lurus. Amin

Maraji’ :

1. Al-Quran Al-Karim

2. Mabahaits fi ulumil Quran karya Manna’ Khalil Al-Qathan

3. Tafsir Quranil Adzim, Ibnu Katsir.

4. Tafsir Ibnu Jarir At-thobari.

5. dll.

Silahkan download artikel ini dengan mengklik tafsir-kasyf.pdf

Komentar»

No comments yet — be the first.